H A L U A N S i s w a

Bersahsiah Dekat & Bererti

You are here: Laman Utama Bahan Bacaan Salam Perantau

Salam Perantau

Ramadhan Bulan Jihad Nafsu

NAFSU, walaupun selalu mendapat cacian, namun selalu pula diikut.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang sangat banyak. Bulan diturunkan al-Quran yang menjadi petunjuk ummat manusia. Dalamnya terdapat satu malam iaitu Lailatul Qadar, beribadah pada malamnya lebih baik dari seribu bulan.

Jihad merupakan puncak tarbiyah dan amaliyah Islam dan para pelakunya akan menepati tingkatan yang paling tinggi di Syurga, sebagaimana mereka juga mendapatkan darjat yang mulia di dunia.

Jihad secara lahiriah semua sudah tahu iaitu membangun ekonomi Islam, membangun sistem hidup Islam, membangun pendidikan Islam, membangun kebudayaan Islam, membangun kesihatan Islam, berperang jika terpaksa dan lain-lain. Walau bagaimanapun Rasulullah S.A.W sangat menekankan tentang adanya jihad yang batin, maknawi atau jihad melawan hawa nafsu. Ketika balik dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud :

Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah?" Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." [Riwayat al-Baihaqi]

Rasulullah mengajak kita untuk meninggalkan suatu peperangan, suatu perjuangan atau suatu jihad yang kecil untuk dilatih melakukan satu perjuangan atau jihad yang besar iaitu jihad melawan nafsu. Orang yang berperang melawan nafsu ini nampak seperti duduk-duduk saja, tidaklah sesibuk orang lain, tetapi sebenarnya sedang membuat kerja yang besar iaitu berjihad melawan nafsu.

Melawan hawa nafsu atau mujahadatun nafsi sangat susah. Mungkin kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan bisa kita pegang, mudahlah kita menekan dan membunuhnya sampai mati, tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Kerana itu tanpa kesedaran dan kemahuan yang sungguh-sungguh kita pasti dikalahkan untuk diperalat sekehendaknya.

Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia. Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah. Di antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum'ah, riya', ujub, cinta dunia, gila pangkat, gila harta, banyak bicara, banyak makan, hasad, dengki, ego, dendam, buruk sangka, mementingkan diri sendiri, pemarah, tamak, serakah, bakhil, sombong dan lain-lain. Sifat-sifat itu melekat pada hati seperti daki melekat pada badan. Kalau kita malas menggosok sifat itu akan semakin kuat dan menebal pada hati kita. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan kuat menggosoknya maka hati akan bersih dan jiwa akan suci.

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ‌ۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ‌ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬
Dan tiadalah aku berani membersihkan diriku; sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan, kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku (maka terselamatlah dia dari hasutan nafsu itu). Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
[Surah Yusuf 12 : Ayat 53]

 

Izzy Sabki, Jordan

   

Pemuda: Di Ambang Ramadhan, Sudah Bersiapkan Kita?

Syukur alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bakal bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun ini yang hanya tinggal beberapa hari sahaja. Semoga kita semua dapat menemuinya dan berpuasa sesuai dengan perintah Allah SWT, dan menjadikannya sebagai saat-saat dan kesempatan yang berharga untuk memperbanyak ibadah, amal soleh dan aktiviti lainnya demi meraih redha Allah SWT.

Kita semua sedia maklum, bulan Ramadhan adalah bulan yang banyak memiliki keistimewaan, nama yang tidak asing bagi umat Islam. Sayyidus suhur (penghulu bulan-bulan) adalah merupakan julukan yang sangat indah, syahru nuzulil Quran, (bulan diturunkannya Al-Qur’an), syahrut tarbiyah (bulan pendidikan), Syahrul Muwasah (bulan kebajikan dan cakna umat), dan julukan-julukan indah lainnya, adalah nama-nama yang indah yang begitu melekat pada bulan Ramadhan.

Namun dari sekian banyak keistimewaan dan keutamaannya serta keindahannya, sangat sedikit dari kalangan para pemuda pemudi Islam yang menyedari atau mungkin mereka sedar tetapi belum menyentuh lubuk hati mereka, sehingga saat Ramadhan tiba, tidak ada raut wajah keghirahan atau kegembiraan menyambutnya. Tidak ada antusiasme pemuda untuk mengikuti amaliyah dan ibadah Ramadhan kecuali sekadar menjalankan kegiatan ritual sahaja; sekadar melepas atau menggugurkan kewajiban atau hanya kerana adat dan tradisi serta kebiasaan yang sudah biasa dilakukan pada setiap bulan Ramadhan hadir. Sehingga setiap kali selesai bulan Ramadhan keperibadian seseorang tidak meningkat dan berubah, tetap seperti yang lama, yang berubah hanyalah umurnya saja yang semakin hari memang terus bertambah dan tua.

Cabaran besar kita adalah untuk menjadikan Ramadan tahun ini yang paling istimewa dalam kehidupan kita dari segi hubungan kita dengan Allah; puasa, doa, membaca al-Quran dan merenung ayat-ayat Allah SWT, iktikaf dan zikrullah, sedekah dan infa’, memahami dan melaksanakan Islam sebagaimana para sahabat RA mencontohkan kepada kita. Semua amalan ini menjadi saksi bahawa kita serius dan bersungguh-sungguh menjadikan Ramadan kita pada kali ini adalah usaha yang terbaik, yang mampu mengeluarkan kita sebagai graduan yang bertaqwa.

Persoalannya, adakah kita sudah bersiap untuk bertemu bulan nan indah ini? Allah SWT berfirman:

“Dan jika mereka mahu berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (At-Taubah:46)

Apa yang perlu kita persiapkan?!

1.Persiapan Ma’nawi (spiritual); dengan cara membersihkan hati dari penyakit yang dapat menggugurkan aqidah dan nilai ibadah, juga agar dapat melahirkan niat yang ikhlas dalam menjalankan segala aktiviti dan ibadah Ramadhan, terutama puasa.

Persiapan ma’nawi adalah persiapan yang terpenting sebelum kita menjejaki kaki di bulan Ramadhan nanti. Mari kita mulakan dengan persiapan taubat kepada Allah SWT yang senantiasa menyerukan kepada kita dengan seruan yang sangat dekat pada hati kita untuk menuju kepada kehidupan yang baru. Firman Allah SWT:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (An-Nuur:31)

Hubungan dengan Allah bermula dengan taubat yang bersungguh-sungguh kepada-Nya. Agar dengan persiapan jiwa kita dengan bertaubat, akan memudahkan kita beroleh taubat yang sempurna di bulan Ramadhan. Agar disepanjang Ramadhan kita pada tahun ini, memberikan impak yang lebih besar kepada hati kita yang sering berbolak balik. Agar dengan taubat kita, akan meninggalkan kehidupan yang hina menuju kehidupan yang penuh dengan izzah (kemuliaan), dan dari kehidupan yang kacau jiwanya menuju kehidupan yang bahagia dan mulia, dari kehidupan yang malas dan lemah menuju kehidupan yang penuh dengan kerja dan jihad

Ramadhan adalah saat terbaik buat para pemuda dan pemudi membangkitkan iman mereka agar bergelora dan membentuk arus perdana merubah masyarakat. Persiapan keimanan adalah persiapan spiritual yang mampu merubah keadaan umat ini. Umat amat memerlukan kesungguhan pemuda muslim yang berperibadi mulia, yang digerakkan oleh iman, didorong oleh akidah, didisiplinkan oleh hukum-hukum syariah, dan peribadi yang dihiasi oleh akhlak Islam.

Ramadhan pada kali ini adalah menjadi harapan besar kepada umat untuk meilhat kebangkitan pemuda yang memiliki keimanan yang mendalam, ubudiyyah dan kecerdasan spiritual yang tinggi kepada Allah SWT. Ianya diharapkan dapat membuka pintu harapan untuk bangkit, memerangi keputus-asaan, merendah diri dan memperkukuh mana’ah (imuniti) untuk menghadapi kelemahan, arus kerosakan dan keruntuhan moral. Menolak kezaliman, tekanan dan penindasan.

Ayuh kita mulaikan dengan taubat, langkat pertama menghadapi Ramadhan. Ayuh kita mulakan dengan koreksi statistik keimanan dan spiritual kita kepada Allah SWT. Agar kelak saat kaki melangkah di bulan Ramadhan, diakhirnya kita beroleh ketaqwaan yang sebenar. 30 hari yang bakal kita lalui akan mencetuskan fenomena Iman yang mendasyatkan peribadi dan jiwa kita. Sedarilah bahawa umat saat ini tidak akan mengalami kelemahan, kemuduran dan tertinggal dari umat lainnya, menyerah pada sebab-sebab kelemahan dan kehinaan, kecuali kerana jauh dari hidayah Allah, kurang pemahamannya terhadap ajaran-ajaran agama dan prinsip-prinsip syariah, tidak memiliki ghirah (cemburu) terhadap maharimullah (hukum-hukum Allah) dan hak-hak-Nya, dan agar umat dapat bangkit dengan menjadikan iman sebagai pemimpinnya dan tauhid sebagai penuntunnya, al-Quran sebagai dusturnya, jihad sebagai jalannya, rasul sebagai pemimpinnya dan mati di jalan Allah sebagai cita-cita tertingginya.

2. Persiapan fikri (kefahaman); justeru para pemuda pemudi Islam, jangan ambil mudah untuk berhadapan dengan Ramadhan. Dalami fiqh Ramadhan dengan ilmu-ilmu dan pengetahuan tentangnya, terutama yang terkait langsung dengan amaliyah dan ibadah di bulan suci Ramadhan.

3. Persiapan Jasadi (Fizikal); dengan menjaga kesihatan badan dan anggota tubuh lainnya, sentiasa mendisiplinkan diri dengan memlihara kebersihan serta mengubah pola hidup menjadi lebih sihat dan teratur.
4. Persiapan Materi (kebendaan); dengan menyiapkan diri untuk menabung dan memperuntukkan sejumlah wang sehingga dapat memperbanyakan infak, sedekah, memberi ifthar kepada orang lain dan membantu orang yang memerlukan.

Semoga dengan beberapa persiapan tersebut diharapkan kita mampu melaksanakan pelbagai aktiviti atau amaliyah di bulan Ramadhan secara maksimum dan berhasil menjadi hamba rabbani baik pada saat pra, atsna’a (pada saat Ramadhan) dan ba’da (pasca) Ramadhan. Rasulullah saw bersabda:

“Andaikan umatku mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”(Ibnu Khuzaimah)

Semoga bulan ramadhan pada kali ini mem”baru’kan kita sebagai pemuda pemudi Islam yang berbekal dengan api keimanan

“Dan berbekallah, kerana sebaik-baik bekal adalah taqwa” (Al-Baqarah:197).

Justeru, persiapkan hati dan jiwa kita dengan langkah yang betul dan benar untuk bertemu bulan luarbiasa ini. Semoga kita dapat memanfaatkan dari kebaikan, keberkahan dan anugerah besar yang disediakan untuk kita di sepanjang Ramadhan. Agar ibadahnya mantap, menghidupkan hari-hari dan malam-malamnya dengan Al-Quran, zikir, doa, istighfar, tahajjud dan infak. Melaksanakan dakwah kepada Allah di mana-mana sahaja, ikut berperanan dalam kegiatan amal dan kebaikan, seperti mengagihkankan sedekah, mengadakan majlis berbuka puasa untuk golongan miskin, menghadiahkan pakaian-pakaian baru untuk remaja sekolah yang memerlukan, mengunjungi orang sakit dihospital dan meringankan beban orang yang memerlukan bantuan.

Selamat bersiap!!

Abu Ridhwan (http://langitilahi.com)

   

Nilai Hidup Menurut Islam

Mujahid Fathi Yakan di dalam kitabnya, Ma za Ya’ ni Intimai Li al-Islam telah menyatakan bahawa di dunia ini terdapat tiga kategori manusia:

Kategori pertama:

Golongan yang hidup hanya untuk dunia semata-mata. Mereka dinamakan sebagai golongan ad-Dahriyyun. Sikap mereka jelas seperti yang dinyatakan di dalam al-Quran:

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.

(Surah Al An’am: 29)

Dan mereka berkata: "Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

(Surah Al-Jatsiyah: 24)

Orang-orang komunis dan rakan-rakan mereka dari golongan sekular atau penganut fahaman existensialism juga beranggapan sedemikian. Dalam satu ulasan yang ditulis oleh Joseph Stalin terhadap pendapat seorang ahli falsafah, mengatakan: "Alam ini tidak dicipta oleh mana mana Tuhan atau insan. Ia terjadi dengan sendirinya dan akan kekal berterusan sebagaimana adanya. Ia merupakan obor kehidupan yang terus menyala dan akan padam berdasarkan hukum-hakam yang tertentu".

Kategori kedua:

Golongan yang telah hilang pedoman, terumbang ambing, aqidah bersimpang siur, melakukan kesesatan dan menyimpang dari jalan Allah Subhanahuwatala’ala dalam kehidupan duniawi. Namun mereka masih menyangka mereka berbuat kebaikan. Meskipun mereka mempunyai kepercayaan kepada Allah Subhanahuwatala’ala dan Hari Qiyamah tetapi aqidah mereka hanyalah gambaran luar semata-mata yang terputus hubungan dengan aktiviti atau amalan hidup mereka. Mereka itu pada hakikatnya berfahaman kebendaan (materialis) walaupun kadangkala mereka melakukan kerja-kerja yang berbentuk kerohanian.

Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna di dalam Risalahnya yang bertajuk "Fi Ayyi Nad'un Nas (Ke mana kita ingin menyeru manusia)" menerangkan matlamat-matlamat hidup pelbagai golongan manusia di dunia:

1. Terdapat segolongan manusia yang hidup mereka adalah untuk makan, minum dan menikmati kelazatan dunia. Firman Allah Subhanahuwata’ala:

Dan (sebaliknya) orang-orang yang kafir menikmati kesenangan di dunia serta mereka makan minum sebagaimana binatang-binatang ternak makan minum, sedang nerakalah menjadi tempat tinggal mereka.

(Surah Muhammad, Ayat: 12)

2. Segolongan manusia yang tujuan hidup mereka adalah untuk menikmati perhiasan dan bersenang-senang dengan kemewahan, dalam firman Allah Subhanahuwata’ala:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

(Surah Ali Imran: 14)

3. Segolongan manusia yang hidup mereka di dunia adalah mengadakan angkara fitnah, menyuburkan kejahatan dan kerosakan, dalam sebuah firman Allah Subhanahuwata’ala:

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

(Surah Al-Baqarah: 204 - 205)

Demikianlah tujuan-tujuan hidup manusia di dunia. Allah Subhanahuwata’ala telah membersihkan orang-orang mukmin dari tujuan-tujuan yang salah dengan memberikan tanggungjawab dan kewajipan yang tinggi lagi mulia. Tanggungjawab tersebut ialah menunjukkan kebenaran Islam kepada manusia. Mengajak manusia seluruhnya kepada kebajikan dan menyinarkan seluruh alam ini dengan cahaya Islam.

Kategori ketiga:

Golongan yang menganggap bahawa dunia ini sebgai ladang tanaman untuk mendapat hasilnya di akhirat kelak. Golongan ini benar-benar beriman dengan Allah Subhanahuwatala’ala. Mereka mengetahui hakikat hidup serta nilai dunia berbanding dengan Hari Akhirat. Allah Subhanahuwatala’ala membandingkan mereka seperti dalam Firman-Nya:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidakkah kamu memahaminya?

(Surah Al An’am : 32)

Mereka yang benar-benar beriman menganggap dunia sebagai medan perlumbaan untuk mentaati Allah Subhanahuwatala’ala dan mencari keredhaanNya. Seluruh bidang hidupnya (ilmu, perniagaan, kekayaan, rumah, masa dan fikiran) diarahkan kepada Jalan Allah Subhanahuwatala’ala..

 

Mus`ab b Ghazali

Mesir

   

Motivasi: Allah itu jauh?

Kenapa manusia sering buat maksiat?

Dia tahu maksiat itu salah, tapi kenapa dia lengah-lengah dalam taubatnya?

Kerana dia rasa Allah SWT itu jauh. Lambat hendak dicapai.

Kenapa manusia, jarang berdoa dan menggantuntgkan harapannya kepada Allah?

Kerana dia rasa Allah SWT itu jauh. Dia tidak nampak Allah, membuatkan dia rasa kurang yakin dengannya. Seakan-akan Allah itu sangat jauh dan mungkin lambat sampai untuk membantunya.

Kenapa manusia, tidak mampu hendak mengaitkan seluruh kehidupannya dengan Allah?

Kerana dia rasa Allah SWT itu jauh. Jadi pada dia, tiada makna mengaitkan urusan hidup dengan sesuatu yang jauh. Yang entah gembira atau tidak dengan kejayaan kita. Yang entah sedih atau tidak dengan kebencanaan yang menimpa kita. Yang entah hendak memberi ganjaran atau tidak dengan kebaikan kita.

Kerana kita rasa Allah SWT itu jauh, maka bila kita gundah atau resah, maka kita berlama-lamaan di dalam perasaan yang menyempitkan itu.

Namun, apakah Allah SWT itu jauh?

Jawapan Allah SWT sendiri

Ini masalah hubungan manusia dengan Allah SWT. Kita di pihak yang mengharap, dan pemberinya adalah Allah. Maka saya rasa, layaklah jika saya gunakan jawapan Allah SWT sendiri untuk hal ini.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ( Al Baqarah: 186)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya (Al Qaaf:16)

“Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Mungkin akan ada yang membahaskan, apakah rapat Allah SWT ini bermaksud memang Allah itu benar-benar di sebelah kita, atau hanya ilmu Allah SWT sahaja yang rapat dengan kita?

Untuk saya, saya tidak suka membahaskan hal itu. Sudah cukup pada saya, saya menerima bahawa Allah SWT itu amat dekat dengan saya. Saya tidak peduli sama ada benar-benar Allah yang berada dekat dengan saya, atau yang dekat dengan saya ini hanyalah ilmu-Nya. Kerana jika saya berada dalam salah satu keadaan itu, tiada apa pun kekurangan untuk saya.

Yang penting, Allah kata – Sesungguhnya aku amat dekat…

Dan Allah SWT itu tidak pernah memungkiri kata dan janji-Nya.

Pada saya, habis setakat itu. Allah nak dekat dengan saya macam mana, itu urusan Dia.

Masalah iman sebenarnya

Allah telah mewar-warkan bahawa Dia amat dekat. Dia juga berkata bahawa, Dia tidak akan memungkiri janji dan kata-Nya.

Justeru, hendak merasa keberadaan Allah SWT itu dekat atau jauh, terpulang kepada keimanan kita. Hendak yakin atau tidak Allah itu dekat, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menngetahui, Maha Berkuasa, Maha Perkasa, itu semua terpulang kepada kita.

Tiada paksaan dalam hendak mengimani semua ini. Tiada paksaan di dalam melaksanakan tuntutan Allah. Tapi, kebenaran itu tetap tidak akan berubah dengan pilihan kita. Kalau kita memilih untuk tidak percaya sekalipun, kebenaran bahawa Allah SWT itu amat dekat tidak akan terubah.

Hatta, kalau satu dunia ini tidak beriman akan kewujudan Allah, Allah itu tetap wujud. Yang beriman tetap akan masuk syurga walau seluruh dunia menyeksanya. Yang tidak beriman tetap akan masuk neraka walau seluruh dunia menyayanginya.

Tidak ada paksaan dalam ugama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali ugama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 256)

Namun tanda kewujudan Allah, keberdekatannya dengan hamba-Nya, sudah terbukti sebenarnya. Kan? Saya yakin ramai orang pernah merasa.

Sekarang pilihan dibuka. Siapa hendak beriman dengan keimanan yang sebenarnya?

Allah itu dekat. Dia tidak jauh.

Keimanan inilah yang membantu kita dalam langkah seterusnya. Bila yakin bahawa Allah itu bukan sekadar ada, malah dekat, sentiasa memerhati, mendengar dan memberikan sokongan, maka dunia ini akan mampu kita lalui dengan baik, segala perintah-Nya mampu kita jalankan dengan kemas.

Siapa yang susah bila dia berdua? Tambahan bila yang bersamanya itu adalah Yang Tidak Terkalahkan Oleh Sesiapa?

Sebab itu, kalau kita sorot kembali dakwah Rasulullah SAW, masalah keimanan ini adalah yang baginda selesaikan terlebih dahulu.

Nah, bagaimana keimanan anda?

Bila sudah yakin

Bila kita sudah yakin bahawa Allah SWT itu amat dekat, maka hilanglah segala resah gelisah. Susah senang dalam hidup ini kita akan harungi dengan tabah. Bila sedih kita ada tempat mengadu, bila gembira kita ada tempat bersyukur. Bila susah kita ada tempat nak minta tolong, bila senang kita ada tempat untuk luahkan kesenangan kita.

Kita juga akan rasa malu untuk membuat kerosakan dan kemungkaran. Ya, bayangkan anda mencuri di hadapan orang ramai. Adakah anda meneruskan pencurian anda dalam keadaan dilihat? Begitulah apabila kita yakin Allah itu dekat. Tidak segan kah anda berbuat maksiat dengan pemerhatian-Nya?

Kalau kita terbuat juga salah, dosa, maksiat, mungkin teralpa, terlalai atau jatuh dalam kecuaian, maka kita dengan keyakinan bahawa Allah SWT itu dekat, akan segera kembali kepada-Nya, segera meminta keampunan daripada-Nya. Terasa malunya diri, bermaksiat di hadapan-Nya, dalam pemerhatian-Nya.

Sebab itu Ibrahim Adham pernah berkata kepada seorang lelaki yang ingin bermaksiat:

“Kamu boleh bermaksiat, dengan syarat kamu cari satu tempat untuk berlindung dari pandangan Allah SWT”

Di manakah kita hendak cari tempat itu? Semuanya yang ada dalam kehidupan ini, hatta sempadan dunia ini sekali pun, semuanya di dalam liputan kekuasaan pemerhatian Allah SWT. Allah SWT itu, berkuasa atas segala-galanya.

Dia meliputi segala sesuatu (Al Fushilat: 54)

Kalau ada gundah, jangan segan menangis di hadapan-Nya. Dia amat dekat, pertolongannya sentiasa ada. Bila susah, segera mengadu kepada-Nya. Dia lebih dekat dengan kita daripada sesiapa yang dekat dengan kita.

Bila sudah yakin, semua ini anda akan rasa kenikmatannya.

Saya dah buat, tapi tak dapat bantuan pun

Ya. Kadangkala, ada situasi, Allah SWT melambatkan bantuan-Nya. Itu adalah ujian. Ujian menguji keimanan kita. Kadangkala, Allah SWT tidak memberikan kita apa yang kita mahu. Namun siapakah kita hendak demand dengan Allah? Kita sendiri tidak tahu apa yang buruk dan baik sebenarnya untuk kita. Allah SWT itu lebih mengetahui.

Sebab itu saya bangkitkan masalah keimanan terlebih dahulu. Yakin kah kita bahawa segala apa yang Allah atur, beri kepada kita adalah yang terbaik?

Jangan risaukan natijah. Yang kita perlu risaukan adalah usaha. InsyaAllah, selepas usaha, segala natijah yang Allah beri adalah yang terbaik. Yakin dengan itu, semua kesusahan, kegundahan, keresahan, akan selesai.

Cuma mungkin, kita hendak rasa apa yang Allah atur itu terbaik, lambat sedikit. Kita tiada pengetahuan seperti Allah SWT. Mungkin kita hanya akan tahu perkara itu baik kepada kita, 10 tahun akan datang. Namun saya yakin, kita akan menyedari. Saya sudah lalui…

Penutup: Maka jangan lengah merapati-Nya

Maka, apakah masih pantas untuk kita berlengah-lengahan terhadap Allah SWT?

Allah amat kasih dan cinta dengan kita. Sangat dekat. Kenapa kita tidak boleh membuat permulaan, walaupun dengan langkahan kecil untuk mendekati-Nya? Kedekutnya, bakhilnya, tidak malunya kita berlagak sedemikian rupa. Sedangkan Allah SWT yang memiliki segalanya merapati kita. Kenapa kita yang memerlukan Allah SWT tidak bergerak mendekati-Nya?

Kita hanya perlu bergerak selangkah, Allah mendekati kita seribu langkah. Kita hanya perlu berjalan merapati Allah, Allah akan mendekati kita dalam keadaan pantas.

Ya Allah, apakah ada lagi yang sebaik Engkau dalam dunia ini?

“Cukuplah bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik wakil(pengurus)” Surah Ali-Imran ayat 173.

Jangan lengah. Nanti kalau peluang benar-benar hilang(mati, kiamat) baru hendak tergadah.

Mari kita rasa Allah dekat dengan kita. Hidup benar-benar dengan perasaan bersama-Nya. Percayalah cakap saya, orang yang punya perasaan ini, dia sentiasa akan berjaya.

RUJUKAN

   

Pandanglah Sebentar Kepada Yunus

Sewaktu meniti pembelajaran dalam kuliah madkhal Aqidah yang diajarkan oleh Dr Samirah Tohir, saya mendapat satu pengajaran yang suka saya kongsikan.

Itulah dia pengajaran daripada kisah Rasul ALLAH yang bernama Yunus.

Read more...

   

Menjejak Keluarga Ibrahim

Aidiladha, Aidiladha. Setiap tahun ada Aidiladha. Tetapi apakah yang kita nampak pada Aidiladha?

Nama lain bagi Aidiladha adalah Hari Raya Korban. Ya, korban. Sebut sahaja Aidiladha, orang akan nampak korban. Suka saya bertanya, korban apakah yang kita nampak?

Read more...

   

Cinta! Oh Cinta!

Apabila sesuatu topik diutarakan berkisar cinta, sudah pasti ia akan menjadi topik paling hangat dan paling banyak pembacanya. Walaupun masih banyak perkara-perkara fitrah seperti takut, redha, roja’ (pengharapan) tetapi nampak gayanya fitrah cinta ini lebih menonjol dikalangan kita.

Read more...

   

Lidah Itu Senduk Hati

” Lidah itu adalah senduk hati. Apa sahaja yang ditutur oleh lidah itu disenduk terus daripada hati”

Read more...

   
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Siapa Kami?

Kelab Siswa HALUAN Malaysia (HALUANSiswa) ialah sebuah kelab yang ditubuhkan di bawah HALUAN Malaysia. Kelab ini menjadi platform kepada ahli-ahli yang terdiri daripada semua mahasiswa institusi pengajian tinggi awam dan swasta sama ada di dalam atau di luar negara untuk bergabung tenaga bagi menjayakan visi dan misi HALUAN. PPM 969/88

Who's Online

We have 18 guests online

Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday432
mod_vvisit_counterYesterday480
mod_vvisit_counterThis week1743
mod_vvisit_counterLast week3676
mod_vvisit_counterThis Month4517
mod_vvisit_counterAll days291481